Kultus individu dan kelekatan

July 24th, 2006 by rajawali

Ada lagi yang sudah bikin aku nggak bisa tidur lagi semalam. Padahal sanger udah kukurangi jadi satu gelas aja. Ralat, satu gelas sanger dan satu gelas kopi hitam. Jadi, ada dua gelas kopi tadi malam. Oke, balik lagi. Yang bikin aku nggak bisa tidur adalah sebuah obrolan singkat soal ‘kharisma’. Adakalanya, kharisma telah membuat seseorang menjadi ‘lekat’ dan tergantung.

Apa hubungannya kharisma dengan kelekatan? Kharisma itu sendiri adalah sesuatu yang menonjol pada diri seseorang yang terpancar keluar sebagai daya tarik dan kewibawaan, sehingga mengundang rasa hormat dan kagum dari orang lain di sekitarnya. Nah, apa itu ‘kelekatan’? Stephen Covey pernah menyebutkan tentang ‘pusat-pusat hidup’. Ada orang yang memusatkan hidupnya pada materi, sehingga segala tindakan dalam hidupnya dipengaruhi dan cenderung disetir oleh benda-benda di sekitarnya. Orang lain lagi memusatkan hidupnya pada pribadi orang lain. Sehingga, segala tindakan dalam hidupnya sangat bergantung pada kehidupan orang lain, bahkan cenderung disetir oleh tingkah laku, perangai dan naik turunnya ’si pribadi’ yang dijadikan pusat (bahasa halusnya : panutan). Ekstremnya, orang melakukan praktik-praktik ‘kultus individu’. Itu karena mereka-mereka telah menjadikan sebuah pribadi (yang menurut mereka berkharisma) sebagai pusat kehidupan mereka. Hidup mereka tergantung pada pribadi (yang menurut mereka) berkharisma tersebut.

Contoh dari praktik kultus individu adalah mereka yang begitu mendewakan Bung Karno. Sehingga pemimpin lain yang bukan Bung Karno dianggap tak layak. Contoh lain yang lebih sederhana, adalah ketika seorang pria merasa hidupnya hancur sehancur-hancurnya ketika wanita yang pernah berjanji sehidup semati dengannya pergi meninggalkannya. Hidupnya tak lagi berarti tanpa kehadiran wanita itu. Itulah contoh paling sederhana dari seorang yang memusatkan kehidupannya pada orang lain.

Stephen Covey merekomendasikan satu pusat hidup yang ideal. Yaitu hidup yang dipusatkan pada ‘prinsip-prinsip kebaikan yang universal’. Prinsip-prinsip yang diyakini sebagai sebuah kebenaran universal. Ternyata dalam hal ini Stephen Covey punya pandangan yang sama dengan Ignatius Loyola, pendiri Serikat Jesus (SJ). Ignatius menekankan kehidupan yang ‘lepas bebas’, bahwa segala sesuatu di ‘luar diri kita’ adalah semata-mata sarana untuk memuliakan Tuhan. Bahwa kita sebagai manusia menggunakan sesadar-sadarnya seluruh kemampuan pada diri kita, tidak tergantung pada benda maupun pribadi seseorang dalam mewujudkan misi hidup kita di dunia. Kita tidak lebih memilih sehat daripada sakit, tidak lebih memilih kekayaan daripada kemiskinan.

Begitu banyak manusia di dunia ini begitu rapuh karena tidak menyadari bagaimana pusat hidup yang seharusnya dan sekaligus mendamaikan hati setiap orang. Konflik dan kekerasan, juga disebabkan oleh paradigma yang salah tentang pusat hidup. Pusat hidup yang berakar pada identitas, agama, ras tertentu, pangkat, status sosial dan lain-lain, biasanya tidak membuat hidup manusia tenteram. Manusia, oh manusia…

(Lewat tengah malam di Banda Aceh, 24 Juli 2006)

3 cangkir kopi sanger

July 23rd, 2006 by rajawali

Ternyata, 3 cangkir kopi sanger dan companions telah berhasil membuat aku melek sampai pukul 4 dini hari.
Ternyata, 3 cangkir kopi sanger dan diskusi ngalor ngidul telah berhasil menggelitik ide-ide dan memuntahkannya dalam sebuah tulisan reflektif tentang lembaga, dalam satu malam dan satu hari penuh.
Ternyata, ‘transfer energi’ itu masih terbukti kekuatannya. Buktinya, sesuatu yang aku yakini betul sebagai semangat telah bangkit dalam diriku. Kuharap terjadi juga pada mereka.
Terima kasih sanger. Ia cuma sebuah sebentuk benda, yang dinikmati hanya sekedar sebagai sampingan di kedai kopi sederhana. Tapi ia jualah yang membawa obrolan kami menjadi bernas, yang tak pernah aku duga sebelumnya. Ngopi lagi yuuukss…

Being fulfilled..

July 23rd, 2006 by rajawali

Apa yang menjadikan seorang manusia merasa fulfilled? Fulfill, suatu perasaan ‘berarti’ sebagai manusia, yang biasanya didahului oleh sebuah peran atau tindakan yang memberi arti bagi kemanusiaan seseorang secara unik. Seorang ibu akan merasa fulfilled, ketika perjuangannya dari melahirkan sampai membesarkan anak dapat terwujud dengan keberhasilan sang anak ketika dewasa. Seorang relawan akan merasa fulfilled ketika dirinya dapat menyelamatkan korban bencana dan mereduksi semakin banyak jatuhnya korban.

Banyak cara untuk mencapai hidup yang berarti rupanya. Sederhananya, perhatikanlah sekelilingmu, semestamu. Dari situ engkau bisa mulai menjadikan hidupmu berarti. Bukan menjadikan standar orang lain sebagai standar kebermaknaan hidupmu, tetapi bagaimana engkau dengan caramu yang unik dapat menjadikan hidup ini menjadi lebih berwarna. Bukan hanya hidup sendiri, tapi juga hidup orang lain.

Tidak semua orang dapat memaknai hidupnya, dan tak semua orang peduli apakah ia merasa fulfilled atau tidak. Disadari atau tidak, setiap orang akan selalu mencari format pemenuhan dirinya sebagai manusia. Diverbalkan atau tidak, being fulfilled akan selalu ada dan melekat dalam kehidupan setiap manusia. Namun, hidup akan terasa lebih indah, ketika manusia dapat terbangun, dan mendapati dirinya adalah manusia yang diciptakan untuk memberi makna tertentu bagi dunia ini.

Tercerabut…

November 25th, 2005 by rajawali

Malam itu, tiba-tiba aku merasa sendu dan ingin menikmati kesendirianku dalam tumpahan hujan Brussels yang dingin dan beku menjelang musim dingin 2005. Di dalam metro, kulihat seorang ibu (sepertinya imigran dari Eropa Timur) yang baru saja masuk dan duduk di kursi dengan tergesa-gesa. Di tangannya sebuah amplop putih yang dengan tergesa pula ia buka. Di dalamnya, beberapa lembar foto ia keluarkan. Mimik wajahnya ketika melihat foto-foto itu antara akan menangis dan sepertinya menahan emosi yang tak tertahankan. Digenggamnya foto-foto itu erat-erat. Karena aku berada di seberangnya, aku tak dapat mengetahui persis, apa yang dilihatnya di dalam foto itu. Keluarganya kah? Anaknya? Cucunya? Dalam imajinasiku, ia tengah melihat foto salah satu anggota keluarganya yang sudah lama tak ditemuinya. Sebegitu mirisnya ekspresi wajahnya menatap foto-foto itu… Kuingat ketika aku masih melayani pengungsi-pengungsi Timor Leste di Kupang dan Atambua, yang terpisah secara politis dan batas negara. Reaksi mereka bisa lebih hebat dari ibu yang kulihat di metro itu. Menangis, menyayat hati.. bahkan sampai sakit, hanya karena melihat foto sanak saudaranya yang lama tak ditemui. Kubayangkan diriku, yang kini tengah berada jauh dari keluargaku. Kangen, sebatas itu rasa yang mungkin muncul. Tapi bagi mereka, yang tak mengenal perbedaan jarak dalam kamus mereka, mungkin sudah menjadi akhir dunia. Buatku, masih ada rasa optimis untuk melihat keluargaku kembali. Bagi mereka, para pengungsi, pencari suaka, mereka yang terpaksa keluar dari kampung halaman, ini menjadi luka yang dalam untuk mereka. Harapan untuk bertemu kembali dengan saudara dan kampung halaman hanya tinggal harapan. Bahkan mungkin tak berani untuk berharap lagi. Yang hanya bisa dilakukan hanya mengenang. Menyimpan luka itu, mencoba menatap ke depan, walaupun luka itu terasa pedih untuk disimpan…

Alone…

July 22nd, 2005 by rajawali

Apa yang dilakukan orang-orang jika sendirian di rumah? Sendirian, yang bener-bener nggak ketemu batang hidung orang lain, selain batang hidung sendiri yang cuma bisa dilihat kalo sedang bercermin. Sendirian yang nggak cuma sehari, dua hari.. bisa sampe satu minggu lamanya. Tapi gila aja kalo lebih dari seminggu, aku belum mampu rasanya. Bisa gila!

Oke, kembali pada apa yang dilakukan ketika sedang sendiri. Kata para cerpenis dan novelis, sendiri, bisa jadi momen yang tepat untuk nyari inspirasi menulis cerita. Tapi aku bukan penulis cerita, gimana dong? Kata pertapa, sendiri merupakan momen yang tepat untuk mencari wangsit dan wahyu-wahyu dari dewa. Tapi udah seminggu lumutan sampe ijo juga, wangsit untuk menang lotere nggak muncul-muncul tuh.

Tapi kalo kata gue, dengan sendiri, aku bisa lebih fokus mikirin thesis. Tapi gimana kalo jenuh mikirin thesis melulu ya? Sebenarnya sih, sendiri di rumah, sorangan wae, aku bisa latihan jadi ibu rumah tangga yang baik atau latihan jadi cleaning service yang jempolan. Seperti misalnya mencuci baju atau bersih2 debu di lantai dengan penyedot debu. Aku juga bisa eksperimen memasak macam-macam masakan. Nggak lah, kalo masak mah. Wong yang makan cuma aku sendiri. Sejauh ini udah numpuk 3 kotak di kulkas berisi 3 jenis masakan berbeda, yang aku sendiri nggak bisa ngabisin. Serba salah rupanya kalo masak buat sendiri…

Well, yang paling penting, sendiri merupakan momen yang tepat untuk merenungkan tentang hidup dan masa depan. Di saat sendiri, orang bisa mengoreksi apa yang sudah dia perbuat di masa lalu, dan membuat janji untuk masa depan. Nggak ada salahnya juga untuk merakit mimpi untuk mengubah dunia. Sejauh itu kemudian diwujudkan secara nyata.

I’m only an ordinary person, with a big dream in my head and bunch of love in my heart.

Sendiri? Siapa takut??!!

(Groningen, 23 July 2005. Di permulaan hari yang gelap dan dingin)

Civilization dan Manja

July 22nd, 2005 by rajawali

Ada apa dengan aku saat ini?

Napasku sesak oleh karena asap pembakaran kendaraan bermotor yang tidak sempurna. Aku memaki setengah mati karena orang menyerobot seenaknya dalam antrian. Tiada hari tanpa roti dan butter, kopi dan susu. Kulitku gatal karena pakaian dicuci tanpa pelembut. Tidur tak nyenyak apabila ayam berkokok dengan kerasnya di pagi buta. Tak dapat pergi tidur di malam hari tanpa wangi sabun di badan.

Apakah ini efek dari perubahan kondisi hidup yang civilized atau aku saja yang manja?

Aku, dulu yang begitu sabar menunggu dalam antrian, meskipun diserobot orang berkali-kali ketika antri tiket kereta Parahyangan. Dulu yang satu hari penuh dapat berkeliling Bandung dengan motor bebek grand astrea, bersaing dengan kepul asap angkot-angkot cicaheum atau dago. Bahkan 4 hari dapat beradaptasi dengan gas methan di TPA Leuwi Gajah gituuu. Tak peduli apakah pakaianku dicuci dengan pelembut atau tidak, bahkan tak peduli apakah pakaianku kaku-kaku karena masih mengandung deterjen akibat tak sempurna dibilas… Masa kecilku pun kenyang dengan suara ayam tetangga dan azan yang berbunyi 5 kali sehari.

Ada apa denganku kini? Rasanya, aku menikmati hidupku baik dulu dan sekarang. Tapi, apakah aku bisa kembali kepada kondisi kehidupanku yang dulu? Apakah ini perubahan ke arah sesuatu yang lebih baik? Jika demikian, kondisi dulu bukan sesuatu yang lebih baik dari sekarang. Kenapa yang sekarang lebih baik dan yang dulu tidak lebih baik dari sekarang?

Apakah aku sudah termanjakan oleh dunia di mana aku tidak dilahirkan???

(Groningen, 22 Juli 2005. Di suatu malam yang sunyi, dingin dan sendiri)

CINTA SANG NABI (Kahlil Gibran)

March 19th, 2005 by rajawali

Ketika cinta memanggilmu, ikutlah dengannya

Meskipun jalan yang harus kautempuh keras dan terjal

Ketika sayap-sayapnya merengkuhmu, serahkan dirimu padanya

Meskipun pedang-pedang yang ada di balik sayap-sayap itu mungkin akan melukaimu

Dan jika ia berbicara padamu, percayalah

Meskipun suaranya akan membuyarkan mimpi-mimpimu bagaikan angin utara yang memporakporandakan petamanan.

Cinta akan memahkotai dan menyalibmu

Menumbuhkan dan memangkasmu

Mengangkatmu naik, membela ujung-ujung rantingmu yang gemulai dan membawanya ke matahari

Tapi cinta juga akan mencengkeram, menggoyang akar-akarmu hingga tercerabut dari bumi

Bagai seikat gandum ia satukan dirimu dengan dirinya

Menebahmu hingga telanjang

Menggerusmu agar kau terbebas dari kulit luarmu

Menggilasmu untuk memutihkan

Melumatmu hingga kau menjadi liat

Kemudian ia membawamu ke dalam api sucinya, hingga engkau menjadi roti suci perjamuan kudus bagi Tuhan.

Semuanya dilakukan cinta untukmu hingga kau mengetahui rahasia hatimu sendiri, dan dalam pengetahuan itu kau akan menjadi bagian hati kehidupan.

Jangan biarkan rasa takut bersarang, agar kau tak hanya menjadikan cinta tempat mencari senang.

Karena akan lebih baik bagimu untuk segera menutupi ketelanjangan dan berlalu dari lantai penebahan cinta,

Menuju dunia tanpa musim dimana engkau akan puas tertawa, gelak yang bukan tawamu, dan engkau akan menangis, air mata yang bukan tangismu.

Cinta tidak memberi apapun kecuali dirinya sendiri dan tidak meminta apapun selain cinta itu sendiri,

Ia tidak memiliki dan tidak dimiliki

Karena cinta hanya untuk cinta

Ketika engkau mencinta jangan katakan, “Tuhan ada dalam hatiku”; tapi katakan, “Aku ada di hati Tuhan”

Dan jangan berpikir engkau dapat memilih jalan sendiri karena cintalah, jika ia berkenan, yang akan mengarahkan jalanmu.

Cinta tidak pernah berhasrat selain pemenuhan dirinya

Namun jika engkau mencinta dan harus memiliki hasrat, biarlah ini yang menjadi hasratmu :

Melebur diri dan menjadi anak sungai yang mengalir melantunkan nyanyian ke peraduan malam

Mengetahui sakitnya rasa kelembutan

Terluka oleh pemahamanmu sendiri tentang cinta;

Berdarah dengan ikhlas penuh suka cita

Terbangun di saat fajar dengan hati bersayap dan menghaturkan puji syukur untuk hari-hari yang penuh cinta;

Beristirahat di terik siang dan merenungkan puncak-puncak cinta

Pulang di petang hari dengan syukur sepenuh hati;

Di Bawah Kepak SayapMu

March 17th, 2005 by rajawali

Aku ingin selalu berada di hadirat Mu
Aku ingin selalu berlindung dalam naunganMu

Di bawah kepak sayapMu
Kau bawa ku terbang tinggi
Melintasi langit biru bagaikan rajawali

Bagai rajawali melintasi gunung tinggi
Bagai rajawali melintasi badai hidup

Di bawah kepak sayap Mu
Kau bawa ku terbang tinggi
Melintasi langit biru bagaikan rajawali

"A tribute to my Dad who introduced me this song,

when I still learned how to fly…"