Suatu pagi bersama para TKI
Di sela segala lelah akibat delay berkepanjangan oleh Adam Air, aku mengalami perjumpaan yang menarik dengan beberapa Tenaga Kerja Indonesia alias TKI. Saat itu, aku tengah tertidur berbantalkan ranselku di sebuah kursi panjang di bandara Soekarno-Hatta. Kudengar samar-samar suara-suara perempuan mendekati deretan bangku di dekatku. Satu orang terdengar berbicara dengan bahasa jawa, ditimpali dengan suara lain yang berbicara dengan logat cina campur jawa. Suara lain lagi berbicara soal kurs mata uang dollar, karena teman yang lain mau cari wartel untuk menghubungi saudaranya. Aneh… Pelan, aku membuka mata. Ada 4 perempuan yang duduk di dekatku, berceloteh dengan berisiknya membangunkan tidur pagiku. Tapi kesalku tak sempat muncul karena suara berisik itu, karena mendengarkan celotehan mereka yang berisik itu, aku seolah mendapatkan kawan.
Aku bangun, duduk, merapikan rambut. Lalu kutanya salah seorang dari mereka. "Dari mana dan mau ke mana, mbak?" Pertanyaan yang sangat biasa dilontarkan untuk memulai sebuah percakapan dalam perjalanan. Mbak itu menjawab, hendak berangkat ke Yogya. Dan, melalui serangkaian percakapan perkenalan lainnya, akhirnya kuketahui mereka adalah rombongan TKI yang hendak mudik ke tempat asalnya. Dari empat perempuan itu, satu orang bekerja di Macau, dua orang bekerja di Singapura, dan satu orang lagi bekerja di Malaysia. Mereka tiba dengan pesawat China Airlines malam sebelumnya. Sempat menginap di tempat transit di bandara (mungkin keadaannya lebih buruk dari yang kualami sebelumnya ya.. lihat post-ku yang berjudul Mikrolet Adam Air)
Apa yang membuatku tertarik berbicara dengan mereka selanjutnya? Pertama, mereka begitu antusias dan tidak terlihat kesal ataupun lelah. Padahal, mereka telah melalui perjalanan yang panjang melebihi perjalananku sendiri. Dan mungkin, keadaan mereka ketika menginap dan mandi di tempat transit bandara tidak lebih nyaman dibanding mess Adam Air yang kutempati. Mungkin semangat mereka akan pulang menuju rumah atau tempat asal merekalah yang telah mengalahkan rasa lelah dan kesal dalam perjalanan. Kedua, baru kali ini aku bersentuhan langsung dengan para TKI yang biasanya hanya kudengar berita-berita hangatnya melalui media massa. Maka ini menjadi kesempatan yang berharga buatku untuk mengetahui sedikit tentang suka duka menjadi pekerja di negeri orang.
Apa yang membuat mereka tertarik bekerja sebagai TKI? Dari sekilas pembicaraan mereka, jelas, faktor utama adalah uang. Mereka dapat meraup uang banyak dengan bekerja di negeri orang. Kedua, situasi negara tempat mereka bekerja membuat mereka betah. Dalam arti: keteraturan, kebersihan dan ketertiban. Mendengar aku bekerja di sebuah LSM di Banda Aceh, salah satu dari mereka bergidik ngeri. "Apa enaknya bekerja di Banda Aceh? Membayangkannya saja sudah merasa sumpek dan ngeri." Mungkin, bekerja dalam kultur sebuah negara maju terasa lebih nyaman daripada bekerja di negara sendiri.
Sebutlah, Tiwi, salah satu dari TKI tersebut, mengatakan ia mulai bekerja sebagai TKI sejak tahun 1998 dan masih betah sampai sekarang menjadi TKI. Bahkan sudah berpindah dari satu negara ke negara lain, Cina, Hongkong, Macau. Katanya, kalo sudah pulang ke rumah dan tidak bekerja, ia merasa sangat bingung dan resah, rasanya ingin sekali melakukan sesuatu. Bukti bahwa pengalaman bekerja di negeri lain telah membentuk etos kerja seseorang. Tiwi mengatakan, "Di Hongkong, jangan berani menjawab majikanmu dengan bahasa jawa atau bahasa indonesia, karena dia akan menyangka kamu misuh-misuh atau mencela. Kamu bisa dipecat dalam hitungan menit, tanpa ada pertimbangan lagi." bahkan, dia bilang,"Jangan berani macam-macam ketika majikan tidak ada di rumah, karena mereka meletakkan kamera di setiap sudut ruangan untuk memantau apa saja yang dilakukan selama mereka tidak di rumah…"
Rini, TKI yang lain, menambahi, "Wah, kalo majikan saya mah, ngetop-lah. Kalo holiday, saya suka diajak. Saya kan kerjaannya cuma ngurusi orang tua yang udah nggak bisa apa-apa. Nggak rewel, jadi saya enak. Coba, TKI mana yang kalo pulang seperti saya ini, gemuk." Perkataan dia mengundang tawa dari teman-temannya yang lain. Namun, di sisi lain, ia bercerita mengapa ia memilih tetap bekerja sebagai TKI, walaupun tunangannya telah menunggu dia bertahun-tahun untuk menikahinya. Katanya, "Kedua adikku sudah menikah. Tapi suami-suami mereka tidak bekerja. Kedua adikku yang harus memenuhi kebutuhan keluarga, padahal mereka masing-masing sudah punya anak. Suami mereka? Entah pergi ngeluyur ke mana setiap harinya. Tidak ada yang pulang membawa nafkah sama sekali! Akhirnya, uang gaji saya, saya berikan pada adik-adikku itu. Kasihan mereka." Lagi-lagi, masalah uang menjadi motivasi ia bertahan sebagai TKI. Tak peduli seorang pria telah menanti dan siap menikahinya.
Winda, TKI yang lain, tidak banyak berbicara. Dalam genggamannya ada handphone yang tiap kali ia gunakan untuk menyetel lagu MP3 "Bang, SMS siapa ini Bang" keras-keras. Di tangannya yang lain ia menggendong boneka besar sekali. Tampak, dengan penghasilan yang ia terima, ia dapat membelanjakan barang-barang yang dapat memuaskan keinginannya. Dari dialah, aku dapat mengetahui bahwa ada jenjang-jenjang dalam pengalaman bekerja sebagai TKI. TKI pemula bekerja di Malaysia, kemudian setelah cukup berpengalaman, mereka melirik Singapura dan Hongkong sebagai tujuan pekerjaan mereka. Tentu, karena uangnya lebih banyak, dan situasi kerja di sana lebih menyenangkan.
Motivasi ekonomi, jelas adalah faktor utama ketertarikan mereka untuk menjadi TKI. Implikasinya, percampuran pandangan hidup yang dibawa dari tempat asalnya, dengan kultur yang dihadapinya selama mereka bekerja telah membentuk mereka menjadi sedemikian rupa. Mereka tetap sederhana sebagai pribadi, yang dengan pengalaman bekerja meskipun pembantu, (lagi-lagi ini konstruksi sosial juga yang melihat pembantu sebagai pekerjaan rendahan) dan kemampuan berbicara dalam berbagai bahasa, tetapi berhasil menjadi seorang yang profesional. Unik.