Mudik.. mudik..

Hari ini aku keluar dari rumahku, mendapati jalan yang biasa kulewati menuju kantor lengang. Sempat beli bensin untuk Honda-ku di depan Ateuk Pahlawan. Situasi yang sama kudapati. Ada apa gerangan? Sabtu, 21 Oktober 2006. Dua hari lagi lebaran. Mungkin orang-orang yang biasanya memenuhi kota Banda Aceh sudah mulai mudik ke rumah mereka, di luar kota Banda Aceh. Mungkin ke Lamno, Sigli atau Bireuen.

Rekan-rekan di kantorku satu per satu mudik ke rumah mereka. Kebanyakan pulang ke Jawa. Ada juga yang menghabiskan liburan di Medan. Kantor pun lengang. Nuansa yang sama seperti di jalanan Banda Aceh pagi ini.

Sempat aku chatting dengan seorang kawan di Meulaboh. Ngobrol dengannya tentang situasi di Meulaboh. Keramaian justru terasa di sana. Lebih dari biasanya. Ya, bisa jadi, gelombang arus mudik telah memindahkan manusia-manusia dari Banda Aceh, juga Jakarta dan kota-kota besar lainnya ke kota-kota kecil yang biasanya tak terlalu ramai. Hebat nian, pergerakan manusia menjelang lebaran ini. Di televisi, diperlihatkan betapa orang-orang rela antri di stasiun kereta api, terminal bis dan bahkan sampai rela antri di kemacetan pantura yang melelahkan. Inilah mudik. Kubayangkan pastilah Jakarta dan kota-kota besar lainnya sudah sepi sekarang. Keramaian dan hiruk pikuk berpindah di jalanan, di kampung-kampung dan pedesaan.

Ada tempat-tempat tertentu yang senantiasa menjadi ‘rumah’ bagi manusia-manusia yang terus bergerak ini, dan mereka menjadikan tempat lainnya sebagai sumber mata pencaharian. Bulan Ramadhan adalah bulan suci bagi umat Islam. Niatan dipancangkan untuk membersihkan diri dari dosa-dosa. ‘Kembali’ ke fitrah. Kembali pada jiwa yang bersih, seperti ketika baru dilahirkan. Mudik, artinya ‘kembali’ ke rumah. Kembali pada keluarga dan handai taulan, bermaaf-maafan-merekat hubungan yang sempat retak. Mengembalikan hubungan yang selama ini berjarak.

Inilah Ramadhan. Bagi sebagian orang, tiada lengkap perayaan kemenangan di bulan suci ini, tanpa mudik. Semoga perjalanan mereka yang mudik ini dikaruniai keselamatan, agar se-kembali-nya nanti, mereka menjadi manusia yang baru. Membawa janji dan harapan baru untuk perbaiki perilaku. Selamat Idul Fitri. Maaf lahir dan batin.

Leave a Reply