Mikrolet Adam Air

Maksudnya mencari schedule penerbangan sesingkat mungkin, ternyata bukan perjalanan singkat yang kutemui, melainkan delay dan delay, alias tunda! Tidak hanya satu-dua jam, bahkan sampai hari telah berganti. Ku bertanya padaku sendiri, kutuk apa yang sedang terjadi padaku, mengapa harus tertimpa segala delay ini? Beginilah ceritanya…

Dalam itinerary perjalananku, aku akan menempuh perjalanan Banda Aceh (tempatku tinggal dan bekerja sekarang) menuju Yogyakarta dengan pesawat Adam Air. Berangkat pukul 11.15 dari bandara Blang Bintang-Banda Aceh, transit di Cengkareng 1 jam, lalu melanjutkan ke Yogyakarta dan tiba pada pukul 16.50. Untuk yang belum tau seperti apa itu Adam Air, ini saya tunjukkan logonya :
Adam_air_1

Kenapa kupilih perjalanan dengan pesawat ini, adalah karena lamanya transit di Jakarta yang hanya makan waktu 1 jam. O la la, dari 1 jam itu, membengkak menjadi 1 hari dan 1 malam!
Bermula dari pengumuman keterlambatan pesawat dari Medan menuju Banda Aceh yang mestinya sudah datang pukul 11 kurang, ternyata baru bisa tiba pukul 15.00.

Karena aku punya connecting flight ke Yogya pada pukul 14.50, maka pihak Cengkareng harus diinformasikan mengenai keterlambatanku ini. Maka, aku pergi berbicara dengan staff Adam Air di bandara Blang Bintang, dan minta supaya menginformasikan keterlambatan ini. Staff itu mengatakan, aku bisa naik penerbangan yang terakhir, yaitu pukul 19.00. Maka, dengan sabar aku menunggu. Pesawat itu datang, dan kami berangkat sekitar pukul 16.00 … kami masih harus transit di Medan beberapa menit sebelum melanjutkan ke Cengkareng.
Kami tiba di Cengkareng pukul 19.45. Harap-harap cemas, aku menuju meja transit. Di sana ada petugas yang menerima kami. Kuserahkan tiketku padanya. Ada beberapa orang lain juga melakukan hal yang sama. Mereka akan melanjutkan perjalanan ke Surabaya dan Semarang. Petugas itu mengecek tiketku, dan dengan wajah bingung mengatakan, "Wah, pesawat ke Yogya sudah berangkat…" Di sini, habislah kesabaranku. Mulai aku mengomel kenapa tidak ada komunikasi sama sekali antara pihak Banda Aceh dengan Cengkareng, pokoknya saya tidak mau tahu, malam ini harus tiba di Yogya. Namun, mau sampai jontor bibirku melakukan complain, tidak ada yang bisa dilakukan, kecuali menerima alternatif yang ditawarkan petugas itu : menginap di mess Adam Air.

Mess Adam Air yang messy. Seperti tempat pengungsi. Dalam satu kamar ada 2 tempat tidur bertingkat, satu kasur di lantai, dan satu tempat tidur rusak. Ada kamar mandi di dalamnya. Ada 4 orang perempuan dewasa, dengan satu balita yang mengisi kamar itu. Kondisi kamar untuk perempuan masih cukup layak. Namun untuk beberapa laki-laki mereka harus terima menggelar kasur-kasur di ruang tamu yang tak seberapa luas. Dan, layaknya di atas pesawat, ada hidangan air putih dan roti, kami juga dihidangkan air putih dan roti di mess itu. Itu saja, tidak lebih. Kami yang tadinya buka puasa di atas pesawat harus cari makan malam lagi, dan itu harus cari sendiri. Mana belum kenal daerah lagi. Yang membuat hati dongkol, ketika kami menanyakan soal tersedianya makanan pada petugas di bandara, mereka mengatakan, kami bisa meminta pembantu menyediakannya. Ternyata, kata-kata itu tidak benar sama sekali. Sekali lagi, makan malam harus cari sendiri. Ya, biaya sendiri juga, tentunya. Di mana integritas dan profesionalitas pelayanan untuk semua keterlambatan ini???

Sekembalinya dari makan malam, ada kesulitan kecil yang pribadi sifatnya. Aku tak bawa handuk maupun pakaian. Asumsiku, dengan perjalanan lancar, aku bisa tiba di Yogya dan soal mandi menjadi tidak masalah, karena aku bisa gunakan handuk dan bertukar pakaian dari persediaan yang kupunya di Yogya. Apa boleh buat, dengan kondisi mess yang seadanya itu, tentunya tak bisa toh mengharapkan pihak Adam Air menyediakan handuk dan sabun seperti layaknya sebuah penginapan. Alhasil, sore aku tak mandi, paginya saat berangkat kembali ke bandara, aku juga tidak mandi. Perjalanan ini jelas membuat aku berlumut!

Transport dari bandara sudah menjemput kami subuh-subuh pukul 4. Petugas semalam mengatakan, kami bisa naik pesawat terpagi ke Yogya pada pukul 06.20. Kami langsung diantar ke terminal keberangkatan. Entah masih kurang apa aku dengan segala petaka ini, ketika aku konfirmasi tiketku kembali, petugas di bandara mengatakan, pesawat yang jam 06.20 tidak diberangkatkan, dengan alasan kurang penumpang. Jadi, kami diberangkatkan pada pukul 09.55. Apaaaa??? Kenapa itu tidak dikomunikasikan lebih awal, sebelum kami meninggalkan mess? Supaya kami tidak usah berlama-lama menunggu di bandara… sudah, jadi peninggalan purbakala yang ditumbuhi lumut-lumut saja aku rasanya.

Rasanya penerbangan dengan Adam Air tidak ada bedanya dengan mikrolet. Mikrolet, suka ngetem kalo penumpang di dalamnya belum penuh. Adam Air, jika kurang penumpang, akan dengan sesukanya memindahkan jadual mereka ke jadual di mana penumpang memenuhi kuota mereka. Entah, apakah aku bisa memaklumi gelagat kinerja yang seperti ini, karena tiket yang kubeli memang tiket murah meriah. Apakah harus selalu begitu? Kualitas berbanding lurus dengan biaya yang dikeluarkan. Jadi, kalo tiket murah, jangan harap dapat pelayanan yang istimewa. Mikrolet atau taxi Golden Bird?

One Response to “Mikrolet Adam Air”

  1. Dodi Says:

    jika ada hal-hal yang tidak menyenangka terjadi, ingatlah apa yang dikatakan rahma kepada ricka saat sandalnya hilang dibawa anjing jalanan…. “SUDAHLAH VITA, SEMUA ADA HIKMAHNYA….”
    hehehehe…….

Leave a Reply