Guliran perasaan

"Betapa mudah manusia didamparkan oleh gelombang waktu dari tempat ke tempat, dari perasaan ke perasaan" kata Pram. Perih, dendam, sakit hati, perdamaian, trauma, dll akan terus bergulir mewarnai hidup manusia dari waktu ke waktu.

Ingatan kembali pada apa yang kutulis di buku harianku dulu, di tahun 2002, yang kemudian dimuat dalam "Jembatan Air Mata", karya JRS yang pertama. Ia ditulis dalam serangkaian perjalanan di Timor Leste yang kujalani dari Dili, Maliana, Bobonaro, Lolotoe sampai ke Suai. Walaupun dalam kondisi demam waktu itu di perjalanan, tapi aku bersyukur dapat belajar sesuatu : Ada peristiwa, ada perasaan yang terlibat. Dan waktu, yang membungkus semuanya itu, termasuk berperan menghadirkan peristiwa lain, yang dapat menyembuhkan atau justru memperparah. Inilah kutipan gambaran akan guliran perasaan itu:

Minggu, 31 Maret 2002
Kami sampai di Suai. Saya, Lulu dan Br.Herbert, SJ mengunjungi gereja Suai, dimana dulu terjadi pembunuhan massal penduduk Suai yang mengungsi ke gereja tersebut. Di situ, 3 imam terbunuh, salah satunya imam Jesuit, Rm. Dewanto, SJ. Ketika saya duduk di dalam gereja yang menjadi saksi bisu peristiwa pembunuhan ratusan atau bahkan ribuan penduduk Suai, begitu sulit aku percaya bahwa gereja ini menyimpan kepahitan yang mendalam. Lantai gereja Suai maupun dindingnya, masih menyimpan kepahitan itu. Suram, bekas darah manusia terbunuh tak bisa dihapuskan begitu saja. Dindingnya tak halus lagi bekas berondongan ribuan peluru yang dimuntahkan dari senjata-senjata rakitan.
Aku mendengar di luar gereja, anak-anak bernyanyi riang gembira menyanyikan lagi rohani sekolah minggu mereka. Hampir 3 tahun sudah berlalu. Apakah masyarakat masih menyimpan kepahitan itu?
Sementara, ketika saya menulis catatan harian ini, sayup-sayup terdengar suara musik orang berpesta dan riuh rendah suara tawa orang-orang bergembira. Anyway, life goes on. Roda kehidupan manusian terus berputar, relakan mereka yang telah pergi meninggalkan dunia ini. Songsong hidup baru, yang penuh kedamaian.

Dalam guliran perasaan, ada sesuatu yang tetap. Ia menjadi saksi. Padanya terpatri segala ingatan. Walaupun hanya kesenyapan yang selalu ada.

Perdamaian akan menemukan perjalanannya yang panjang, melalui kepedihan akan kenyataan yang harus diterima, melalui pengakuan akan kesalahan di masa lalu. Saling menerima, saling memaafkan, alangkah indahnya. Itu semua terjadi dari waktu ke waktu, dari perasaan ke perasaan.

Banda Aceh, 19 Oktober 2006

Leave a Reply