Archive for October, 2006

Masak-masak

Tuesday, October 31st, 2006

Hari Minggu yang cerah. Klise ya, pembukaannya? Yeah, rasanya hari itu jadi permulaan kesibukan setelah libur lebaran yang santai dan lengang. Apalagi beberapa kawan sudah kembali dari liburannya di luar kota. Nah, inilah waktunya untuk merealisasikan impian membuat ‘quiche’, masakan favorit yang kupelajari waktu studi di Swedia dulu. Judul lengkapnya : Spinach Quiche.

Ini resepnya :
Bahan pastry : 150 gr tepung terigu, 1/4 sdt garam, 1/2 sdt kaldu ayam bubuk, 100 gr butter, 20 ml air es.

Bahan isi : satu ikat bayam, 5 butir telur (kocok halus), 4 siung bawang putih (rajang halus), 2 batang daun prey (rajang halus), bawang bombang (iris kecil), satu kaleng jamur kancing (potong kecil2), 150 ml susu kental manis yang sudah dicairkan dengan air (50%-50%), 1 sdt garam, 1 sdt merica bubuk, 100 gram keju mozzarella (parut untuk taburan).

Cara membuat :
1. Ayak jadi satu tepung terigu, garam dan kaldu ayam bubuk pada mangkok ukuran sedang
2. Uleni mentega putih sampai tercampur rata dengan adonan tepung.
3. Beri air dingin sedikit demi sedikit sampai adonan bisa dipulung.
4. Bentuk adonan menjadi bola besar lalu bungkus mangkok dengan plastik, simpan dalam kulkas selama 30 menit.
5. Keluarkan adonan dari kulkas, lalu gulung tipis setebal kira-kira 75 mm.
6. Bentangkan pastry pada loyang pie, tekan-tekan supaya menempel, lalu potong bagian pinggirnya.
7. Tuangkan bahan isi yang sudah tercampur rata. Taburi dengan parutan keju.
8. PanaskaAdonan_pastryn oven dengan suhu 200 derajat C. Panggang quiche sampai matang.

Bagian paling susah adalah ketika membuat adonan pastry.
Meskipun pengukuran kuantitas adonan dari resep yang aku download di internet sudah kuikuti dengan baik dan benar, ternyata tetap saja improvisasi mesti dilakukan. Beberapa kali harus menambahkan tepung terigu pada adonan karena kurang kenyal.
Bawang putih, daun bawang dan bawang bombay aku tumis terlebih dahulu. Supaya ketika dipanggang rasa dan aromanya meresap ke dalam bahan isi.

Siap_panggang Di samping ini adalah foto quiche yang siap untuk dipanggang. Di bawah, adalah foto peserta acara masak di hari minggu : yanti, pembantu umum dan romo bambang, penilik. Yang pegang kamera, elis (sorry lis, wajahmu nggak masuk di sini) adalah fotografer kami.

Peserta_masak_1
Quiche dipanggang di oven kecil milik kak Iyah. Oven itu menggunakan panas dari kompor gas, praktis penggunaannya. Hasilnya, dapat dilihat pada foto yang di bawah ini.

Siap_santap Dan inilah wajah puas si tukang masak itu…

Tukang_masak

Mudik.. mudik..

Saturday, October 21st, 2006

Hari ini aku keluar dari rumahku, mendapati jalan yang biasa kulewati menuju kantor lengang. Sempat beli bensin untuk Honda-ku di depan Ateuk Pahlawan. Situasi yang sama kudapati. Ada apa gerangan? Sabtu, 21 Oktober 2006. Dua hari lagi lebaran. Mungkin orang-orang yang biasanya memenuhi kota Banda Aceh sudah mulai mudik ke rumah mereka, di luar kota Banda Aceh. Mungkin ke Lamno, Sigli atau Bireuen.

Rekan-rekan di kantorku satu per satu mudik ke rumah mereka. Kebanyakan pulang ke Jawa. Ada juga yang menghabiskan liburan di Medan. Kantor pun lengang. Nuansa yang sama seperti di jalanan Banda Aceh pagi ini.

Sempat aku chatting dengan seorang kawan di Meulaboh. Ngobrol dengannya tentang situasi di Meulaboh. Keramaian justru terasa di sana. Lebih dari biasanya. Ya, bisa jadi, gelombang arus mudik telah memindahkan manusia-manusia dari Banda Aceh, juga Jakarta dan kota-kota besar lainnya ke kota-kota kecil yang biasanya tak terlalu ramai. Hebat nian, pergerakan manusia menjelang lebaran ini. Di televisi, diperlihatkan betapa orang-orang rela antri di stasiun kereta api, terminal bis dan bahkan sampai rela antri di kemacetan pantura yang melelahkan. Inilah mudik. Kubayangkan pastilah Jakarta dan kota-kota besar lainnya sudah sepi sekarang. Keramaian dan hiruk pikuk berpindah di jalanan, di kampung-kampung dan pedesaan.

Ada tempat-tempat tertentu yang senantiasa menjadi ‘rumah’ bagi manusia-manusia yang terus bergerak ini, dan mereka menjadikan tempat lainnya sebagai sumber mata pencaharian. Bulan Ramadhan adalah bulan suci bagi umat Islam. Niatan dipancangkan untuk membersihkan diri dari dosa-dosa. ‘Kembali’ ke fitrah. Kembali pada jiwa yang bersih, seperti ketika baru dilahirkan. Mudik, artinya ‘kembali’ ke rumah. Kembali pada keluarga dan handai taulan, bermaaf-maafan-merekat hubungan yang sempat retak. Mengembalikan hubungan yang selama ini berjarak.

Inilah Ramadhan. Bagi sebagian orang, tiada lengkap perayaan kemenangan di bulan suci ini, tanpa mudik. Semoga perjalanan mereka yang mudik ini dikaruniai keselamatan, agar se-kembali-nya nanti, mereka menjadi manusia yang baru. Membawa janji dan harapan baru untuk perbaiki perilaku. Selamat Idul Fitri. Maaf lahir dan batin.

Guliran perasaan

Wednesday, October 18th, 2006

"Betapa mudah manusia didamparkan oleh gelombang waktu dari tempat ke tempat, dari perasaan ke perasaan" kata Pram. Perih, dendam, sakit hati, perdamaian, trauma, dll akan terus bergulir mewarnai hidup manusia dari waktu ke waktu.

Ingatan kembali pada apa yang kutulis di buku harianku dulu, di tahun 2002, yang kemudian dimuat dalam "Jembatan Air Mata", karya JRS yang pertama. Ia ditulis dalam serangkaian perjalanan di Timor Leste yang kujalani dari Dili, Maliana, Bobonaro, Lolotoe sampai ke Suai. Walaupun dalam kondisi demam waktu itu di perjalanan, tapi aku bersyukur dapat belajar sesuatu : Ada peristiwa, ada perasaan yang terlibat. Dan waktu, yang membungkus semuanya itu, termasuk berperan menghadirkan peristiwa lain, yang dapat menyembuhkan atau justru memperparah. Inilah kutipan gambaran akan guliran perasaan itu:

Minggu, 31 Maret 2002
Kami sampai di Suai. Saya, Lulu dan Br.Herbert, SJ mengunjungi gereja Suai, dimana dulu terjadi pembunuhan massal penduduk Suai yang mengungsi ke gereja tersebut. Di situ, 3 imam terbunuh, salah satunya imam Jesuit, Rm. Dewanto, SJ. Ketika saya duduk di dalam gereja yang menjadi saksi bisu peristiwa pembunuhan ratusan atau bahkan ribuan penduduk Suai, begitu sulit aku percaya bahwa gereja ini menyimpan kepahitan yang mendalam. Lantai gereja Suai maupun dindingnya, masih menyimpan kepahitan itu. Suram, bekas darah manusia terbunuh tak bisa dihapuskan begitu saja. Dindingnya tak halus lagi bekas berondongan ribuan peluru yang dimuntahkan dari senjata-senjata rakitan.
Aku mendengar di luar gereja, anak-anak bernyanyi riang gembira menyanyikan lagi rohani sekolah minggu mereka. Hampir 3 tahun sudah berlalu. Apakah masyarakat masih menyimpan kepahitan itu?
Sementara, ketika saya menulis catatan harian ini, sayup-sayup terdengar suara musik orang berpesta dan riuh rendah suara tawa orang-orang bergembira. Anyway, life goes on. Roda kehidupan manusian terus berputar, relakan mereka yang telah pergi meninggalkan dunia ini. Songsong hidup baru, yang penuh kedamaian.

Dalam guliran perasaan, ada sesuatu yang tetap. Ia menjadi saksi. Padanya terpatri segala ingatan. Walaupun hanya kesenyapan yang selalu ada.

Perdamaian akan menemukan perjalanannya yang panjang, melalui kepedihan akan kenyataan yang harus diterima, melalui pengakuan akan kesalahan di masa lalu. Saling menerima, saling memaafkan, alangkah indahnya. Itu semua terjadi dari waktu ke waktu, dari perasaan ke perasaan.

Banda Aceh, 19 Oktober 2006

Makna mencinta

Wednesday, October 18th, 2006

Mencintai dalam keterbatasan?
Ya, mungkin, ketika orang mencintai tanpa berani mengharapkan lebih, ia akan memaksimalkan cintanya untuk memberi makna pada cinta itu sendiri, bukan pada tuntutan-tuntutan yang biasanya mengekor di belakangnya.

Banda Aceh, Minggu pagi - 3 September 2006

Sunyi

Wednesday, October 11th, 2006

Dalam sendiri, aku ditemani sunyi.

Bersama sunyi, ingatan terbentang pada mereka yang kukasihi.

Sunyi itu jualah yang mengajari aku untuk sabar dan setia dalam penantian demi penantian.

Sendiri, menanti.

Bukan soal pada sendiri, bukan soal pada sunyi.

Bahwa itu semua memang harus dijalani.

Demi sebuah perjuangan, demi sebuah pencarian.

Tak peduli aku, pada sendiri.

Tak peduli aku, pada sunyi.

Karena ‘rasa’ itu yang akan terus menghidupkan aku, menghangatkan aku.

Yogyakarta, 11 Oktober 2006

Suatu pagi bersama para TKI

Wednesday, October 4th, 2006

Di sela segala lelah akibat delay berkepanjangan oleh Adam Air, aku mengalami perjumpaan yang menarik dengan beberapa Tenaga Kerja Indonesia alias TKI. Saat itu, aku tengah tertidur berbantalkan ranselku di sebuah kursi panjang di bandara Soekarno-Hatta. Kudengar samar-samar suara-suara perempuan mendekati deretan bangku di dekatku. Satu orang terdengar berbicara dengan bahasa jawa, ditimpali dengan suara lain yang berbicara dengan logat cina campur jawa. Suara lain lagi berbicara soal kurs mata uang dollar, karena teman yang lain mau cari wartel untuk menghubungi saudaranya. Aneh… Pelan, aku membuka mata. Ada 4 perempuan yang duduk di dekatku, berceloteh dengan berisiknya membangunkan tidur pagiku. Tapi kesalku tak sempat muncul karena suara berisik itu, karena mendengarkan celotehan mereka yang berisik itu, aku seolah mendapatkan kawan.

Aku bangun, duduk, merapikan rambut. Lalu kutanya salah seorang dari mereka. "Dari mana dan mau ke mana, mbak?" Pertanyaan yang sangat biasa dilontarkan untuk memulai sebuah percakapan dalam perjalanan. Mbak itu menjawab, hendak berangkat ke Yogya. Dan, melalui serangkaian percakapan perkenalan lainnya, akhirnya kuketahui mereka adalah rombongan TKI yang hendak mudik ke tempat asalnya. Dari empat perempuan itu, satu orang bekerja di Macau, dua orang bekerja di Singapura, dan satu orang lagi bekerja di Malaysia. Mereka tiba dengan pesawat China Airlines malam sebelumnya. Sempat menginap di tempat transit di bandara (mungkin keadaannya lebih buruk dari yang kualami sebelumnya ya.. lihat post-ku yang berjudul Mikrolet Adam Air)

Apa yang membuatku tertarik berbicara dengan mereka selanjutnya? Pertama, mereka begitu antusias dan tidak terlihat kesal ataupun lelah. Padahal, mereka telah melalui perjalanan yang panjang melebihi perjalananku sendiri. Dan mungkin, keadaan mereka ketika menginap dan mandi di tempat transit bandara tidak lebih nyaman dibanding mess Adam Air yang kutempati. Mungkin semangat mereka akan pulang menuju rumah atau tempat asal merekalah yang telah mengalahkan rasa lelah dan kesal dalam perjalanan. Kedua, baru kali ini aku bersentuhan langsung dengan para TKI yang biasanya hanya kudengar berita-berita hangatnya melalui media massa. Maka ini menjadi kesempatan yang berharga buatku untuk mengetahui sedikit tentang suka duka menjadi pekerja di negeri orang.

Apa yang membuat mereka tertarik bekerja sebagai TKI? Dari sekilas pembicaraan mereka, jelas, faktor utama adalah uang. Mereka dapat meraup uang banyak dengan bekerja di negeri orang. Kedua, situasi negara tempat mereka bekerja membuat mereka betah. Dalam arti: keteraturan, kebersihan dan ketertiban. Mendengar aku bekerja di sebuah LSM di Banda Aceh, salah satu dari mereka bergidik ngeri. "Apa enaknya bekerja di Banda Aceh? Membayangkannya saja sudah merasa sumpek dan ngeri." Mungkin, bekerja dalam kultur sebuah negara maju terasa lebih nyaman daripada bekerja di negara sendiri.

Sebutlah, Tiwi, salah satu dari TKI tersebut, mengatakan ia mulai bekerja sebagai TKI sejak tahun 1998 dan masih betah sampai sekarang menjadi TKI. Bahkan sudah berpindah dari satu negara ke negara lain, Cina, Hongkong, Macau. Katanya, kalo sudah pulang ke rumah dan tidak bekerja, ia merasa sangat bingung dan resah, rasanya ingin sekali melakukan sesuatu. Bukti bahwa pengalaman bekerja di negeri lain telah membentuk etos kerja seseorang. Tiwi mengatakan, "Di Hongkong, jangan berani menjawab majikanmu dengan bahasa jawa atau bahasa indonesia, karena dia akan menyangka kamu misuh-misuh atau mencela. Kamu bisa dipecat dalam hitungan menit, tanpa ada pertimbangan lagi." bahkan, dia bilang,"Jangan berani macam-macam ketika majikan tidak ada di rumah, karena mereka meletakkan kamera di setiap sudut ruangan untuk memantau apa saja yang dilakukan selama mereka tidak di rumah…"

Rini, TKI yang lain, menambahi, "Wah, kalo majikan saya mah, ngetop-lah. Kalo holiday, saya suka diajak. Saya kan kerjaannya cuma ngurusi orang tua yang udah nggak bisa apa-apa. Nggak rewel, jadi saya enak. Coba, TKI mana yang kalo pulang seperti saya ini, gemuk." Perkataan dia mengundang tawa dari teman-temannya yang lain. Namun, di sisi lain, ia bercerita mengapa ia memilih tetap bekerja sebagai TKI, walaupun tunangannya telah menunggu dia bertahun-tahun untuk menikahinya. Katanya, "Kedua adikku sudah menikah. Tapi suami-suami mereka tidak bekerja. Kedua adikku yang harus memenuhi kebutuhan keluarga, padahal mereka masing-masing sudah punya anak. Suami mereka? Entah pergi ngeluyur ke mana setiap harinya. Tidak ada yang pulang membawa nafkah sama sekali! Akhirnya, uang gaji saya, saya berikan pada adik-adikku itu. Kasihan mereka." Lagi-lagi, masalah uang menjadi motivasi ia bertahan sebagai TKI. Tak peduli seorang pria telah menanti dan siap menikahinya.

Winda, TKI yang lain, tidak banyak berbicara. Dalam genggamannya ada handphone yang tiap kali ia gunakan untuk menyetel lagu MP3 "Bang, SMS siapa ini Bang" keras-keras. Di tangannya yang lain ia menggendong boneka besar sekali. Tampak, dengan penghasilan yang ia terima, ia dapat membelanjakan barang-barang yang dapat memuaskan keinginannya. Dari dialah, aku dapat mengetahui bahwa ada jenjang-jenjang dalam pengalaman bekerja sebagai TKI. TKI pemula bekerja di Malaysia, kemudian setelah cukup berpengalaman, mereka melirik Singapura dan Hongkong sebagai tujuan pekerjaan mereka. Tentu, karena uangnya lebih banyak, dan situasi kerja di sana lebih menyenangkan.

Motivasi ekonomi, jelas adalah faktor utama ketertarikan mereka untuk menjadi TKI. Implikasinya, percampuran pandangan hidup yang dibawa dari tempat asalnya, dengan kultur yang dihadapinya selama mereka bekerja telah membentuk mereka menjadi sedemikian rupa. Mereka tetap sederhana sebagai pribadi, yang dengan pengalaman bekerja meskipun pembantu, (lagi-lagi ini konstruksi sosial juga yang melihat pembantu sebagai pekerjaan rendahan) dan kemampuan berbicara dalam berbagai bahasa, tetapi berhasil menjadi seorang yang profesional. Unik.

Mikrolet Adam Air

Tuesday, October 3rd, 2006

Maksudnya mencari schedule penerbangan sesingkat mungkin, ternyata bukan perjalanan singkat yang kutemui, melainkan delay dan delay, alias tunda! Tidak hanya satu-dua jam, bahkan sampai hari telah berganti. Ku bertanya padaku sendiri, kutuk apa yang sedang terjadi padaku, mengapa harus tertimpa segala delay ini? Beginilah ceritanya…

Dalam itinerary perjalananku, aku akan menempuh perjalanan Banda Aceh (tempatku tinggal dan bekerja sekarang) menuju Yogyakarta dengan pesawat Adam Air. Berangkat pukul 11.15 dari bandara Blang Bintang-Banda Aceh, transit di Cengkareng 1 jam, lalu melanjutkan ke Yogyakarta dan tiba pada pukul 16.50. Untuk yang belum tau seperti apa itu Adam Air, ini saya tunjukkan logonya :
Adam_air_1

Kenapa kupilih perjalanan dengan pesawat ini, adalah karena lamanya transit di Jakarta yang hanya makan waktu 1 jam. O la la, dari 1 jam itu, membengkak menjadi 1 hari dan 1 malam!
Bermula dari pengumuman keterlambatan pesawat dari Medan menuju Banda Aceh yang mestinya sudah datang pukul 11 kurang, ternyata baru bisa tiba pukul 15.00.

Karena aku punya connecting flight ke Yogya pada pukul 14.50, maka pihak Cengkareng harus diinformasikan mengenai keterlambatanku ini. Maka, aku pergi berbicara dengan staff Adam Air di bandara Blang Bintang, dan minta supaya menginformasikan keterlambatan ini. Staff itu mengatakan, aku bisa naik penerbangan yang terakhir, yaitu pukul 19.00. Maka, dengan sabar aku menunggu. Pesawat itu datang, dan kami berangkat sekitar pukul 16.00 … kami masih harus transit di Medan beberapa menit sebelum melanjutkan ke Cengkareng.
Kami tiba di Cengkareng pukul 19.45. Harap-harap cemas, aku menuju meja transit. Di sana ada petugas yang menerima kami. Kuserahkan tiketku padanya. Ada beberapa orang lain juga melakukan hal yang sama. Mereka akan melanjutkan perjalanan ke Surabaya dan Semarang. Petugas itu mengecek tiketku, dan dengan wajah bingung mengatakan, "Wah, pesawat ke Yogya sudah berangkat…" Di sini, habislah kesabaranku. Mulai aku mengomel kenapa tidak ada komunikasi sama sekali antara pihak Banda Aceh dengan Cengkareng, pokoknya saya tidak mau tahu, malam ini harus tiba di Yogya. Namun, mau sampai jontor bibirku melakukan complain, tidak ada yang bisa dilakukan, kecuali menerima alternatif yang ditawarkan petugas itu : menginap di mess Adam Air.

Mess Adam Air yang messy. Seperti tempat pengungsi. Dalam satu kamar ada 2 tempat tidur bertingkat, satu kasur di lantai, dan satu tempat tidur rusak. Ada kamar mandi di dalamnya. Ada 4 orang perempuan dewasa, dengan satu balita yang mengisi kamar itu. Kondisi kamar untuk perempuan masih cukup layak. Namun untuk beberapa laki-laki mereka harus terima menggelar kasur-kasur di ruang tamu yang tak seberapa luas. Dan, layaknya di atas pesawat, ada hidangan air putih dan roti, kami juga dihidangkan air putih dan roti di mess itu. Itu saja, tidak lebih. Kami yang tadinya buka puasa di atas pesawat harus cari makan malam lagi, dan itu harus cari sendiri. Mana belum kenal daerah lagi. Yang membuat hati dongkol, ketika kami menanyakan soal tersedianya makanan pada petugas di bandara, mereka mengatakan, kami bisa meminta pembantu menyediakannya. Ternyata, kata-kata itu tidak benar sama sekali. Sekali lagi, makan malam harus cari sendiri. Ya, biaya sendiri juga, tentunya. Di mana integritas dan profesionalitas pelayanan untuk semua keterlambatan ini???

Sekembalinya dari makan malam, ada kesulitan kecil yang pribadi sifatnya. Aku tak bawa handuk maupun pakaian. Asumsiku, dengan perjalanan lancar, aku bisa tiba di Yogya dan soal mandi menjadi tidak masalah, karena aku bisa gunakan handuk dan bertukar pakaian dari persediaan yang kupunya di Yogya. Apa boleh buat, dengan kondisi mess yang seadanya itu, tentunya tak bisa toh mengharapkan pihak Adam Air menyediakan handuk dan sabun seperti layaknya sebuah penginapan. Alhasil, sore aku tak mandi, paginya saat berangkat kembali ke bandara, aku juga tidak mandi. Perjalanan ini jelas membuat aku berlumut!

Transport dari bandara sudah menjemput kami subuh-subuh pukul 4. Petugas semalam mengatakan, kami bisa naik pesawat terpagi ke Yogya pada pukul 06.20. Kami langsung diantar ke terminal keberangkatan. Entah masih kurang apa aku dengan segala petaka ini, ketika aku konfirmasi tiketku kembali, petugas di bandara mengatakan, pesawat yang jam 06.20 tidak diberangkatkan, dengan alasan kurang penumpang. Jadi, kami diberangkatkan pada pukul 09.55. Apaaaa??? Kenapa itu tidak dikomunikasikan lebih awal, sebelum kami meninggalkan mess? Supaya kami tidak usah berlama-lama menunggu di bandara… sudah, jadi peninggalan purbakala yang ditumbuhi lumut-lumut saja aku rasanya.

Rasanya penerbangan dengan Adam Air tidak ada bedanya dengan mikrolet. Mikrolet, suka ngetem kalo penumpang di dalamnya belum penuh. Adam Air, jika kurang penumpang, akan dengan sesukanya memindahkan jadual mereka ke jadual di mana penumpang memenuhi kuota mereka. Entah, apakah aku bisa memaklumi gelagat kinerja yang seperti ini, karena tiket yang kubeli memang tiket murah meriah. Apakah harus selalu begitu? Kualitas berbanding lurus dengan biaya yang dikeluarkan. Jadi, kalo tiket murah, jangan harap dapat pelayanan yang istimewa. Mikrolet atau taxi Golden Bird?