Kultus individu dan kelekatan

Ada lagi yang sudah bikin aku nggak bisa tidur lagi semalam. Padahal sanger udah kukurangi jadi satu gelas aja. Ralat, satu gelas sanger dan satu gelas kopi hitam. Jadi, ada dua gelas kopi tadi malam. Oke, balik lagi. Yang bikin aku nggak bisa tidur adalah sebuah obrolan singkat soal ‘kharisma’. Adakalanya, kharisma telah membuat seseorang menjadi ‘lekat’ dan tergantung.

Apa hubungannya kharisma dengan kelekatan? Kharisma itu sendiri adalah sesuatu yang menonjol pada diri seseorang yang terpancar keluar sebagai daya tarik dan kewibawaan, sehingga mengundang rasa hormat dan kagum dari orang lain di sekitarnya. Nah, apa itu ‘kelekatan’? Stephen Covey pernah menyebutkan tentang ‘pusat-pusat hidup’. Ada orang yang memusatkan hidupnya pada materi, sehingga segala tindakan dalam hidupnya dipengaruhi dan cenderung disetir oleh benda-benda di sekitarnya. Orang lain lagi memusatkan hidupnya pada pribadi orang lain. Sehingga, segala tindakan dalam hidupnya sangat bergantung pada kehidupan orang lain, bahkan cenderung disetir oleh tingkah laku, perangai dan naik turunnya ’si pribadi’ yang dijadikan pusat (bahasa halusnya : panutan). Ekstremnya, orang melakukan praktik-praktik ‘kultus individu’. Itu karena mereka-mereka telah menjadikan sebuah pribadi (yang menurut mereka berkharisma) sebagai pusat kehidupan mereka. Hidup mereka tergantung pada pribadi (yang menurut mereka) berkharisma tersebut.

Contoh dari praktik kultus individu adalah mereka yang begitu mendewakan Bung Karno. Sehingga pemimpin lain yang bukan Bung Karno dianggap tak layak. Contoh lain yang lebih sederhana, adalah ketika seorang pria merasa hidupnya hancur sehancur-hancurnya ketika wanita yang pernah berjanji sehidup semati dengannya pergi meninggalkannya. Hidupnya tak lagi berarti tanpa kehadiran wanita itu. Itulah contoh paling sederhana dari seorang yang memusatkan kehidupannya pada orang lain.

Stephen Covey merekomendasikan satu pusat hidup yang ideal. Yaitu hidup yang dipusatkan pada ‘prinsip-prinsip kebaikan yang universal’. Prinsip-prinsip yang diyakini sebagai sebuah kebenaran universal. Ternyata dalam hal ini Stephen Covey punya pandangan yang sama dengan Ignatius Loyola, pendiri Serikat Jesus (SJ). Ignatius menekankan kehidupan yang ‘lepas bebas’, bahwa segala sesuatu di ‘luar diri kita’ adalah semata-mata sarana untuk memuliakan Tuhan. Bahwa kita sebagai manusia menggunakan sesadar-sadarnya seluruh kemampuan pada diri kita, tidak tergantung pada benda maupun pribadi seseorang dalam mewujudkan misi hidup kita di dunia. Kita tidak lebih memilih sehat daripada sakit, tidak lebih memilih kekayaan daripada kemiskinan.

Begitu banyak manusia di dunia ini begitu rapuh karena tidak menyadari bagaimana pusat hidup yang seharusnya dan sekaligus mendamaikan hati setiap orang. Konflik dan kekerasan, juga disebabkan oleh paradigma yang salah tentang pusat hidup. Pusat hidup yang berakar pada identitas, agama, ras tertentu, pangkat, status sosial dan lain-lain, biasanya tidak membuat hidup manusia tenteram. Manusia, oh manusia…

(Lewat tengah malam di Banda Aceh, 24 Juli 2006)

Leave a Reply