Archive for July, 2006

Kerajaan kecilku

Wednesday, July 26th, 2006

Ada suatu masa ketika diri ini merasa dunia berubah. Ia, yang begitu diharapkan, didambakan dan diimpikan ternyata direnggut, dijauhkan dan aku tak bisa lagi menggapainya. Secara fisik, tak mungkin mendekapnya, tak mungkin memanjakannya, karena aku tak berhak memberinya semua itu. Namun secara batin, ikatan itu begitu kuat. Aku hanya bisa merindukannya dalam angan, berkomunikasi dalam kesunyian batin. Dalam tahap ini aku hanya dapat bercumbu dengan bayangan dan angan-angan. Hidup menjadi tak ada artinya sama sekali, karena angan hanya tinggal sebatas angan. Aku tak berdaya membuat angan itu menjadi nyata. Karena itu tak mungkin. Tak perlu dicari mengapa, karena tetap saja tak mungkin adalah jawabannya.
Namun aku bersyukur pernah mengalami indahnya kekuatan relasi itu, daripada tidak sama sekali. Mereka yang tak pernah mengalaminya, tak akan mampu mengapresiasi pun tetap tinggal dalam ketidaktahuan dan ketak mungkinan.
Pengalaman indah itu telah menciptakan kotak khusus di antara jutaan lemari penyimpanan memori dalam kerajaan kecilku. Ketika merindukannya, aku buka kotak itu, memainkan rekamannya dalam angan…

(di penghujung tahun 2005, ketika saatnya tiba untuk menutup kotak khusus itu Img_7876

Kultus individu dan kelekatan

Monday, July 24th, 2006

Ada lagi yang sudah bikin aku nggak bisa tidur lagi semalam. Padahal sanger udah kukurangi jadi satu gelas aja. Ralat, satu gelas sanger dan satu gelas kopi hitam. Jadi, ada dua gelas kopi tadi malam. Oke, balik lagi. Yang bikin aku nggak bisa tidur adalah sebuah obrolan singkat soal ‘kharisma’. Adakalanya, kharisma telah membuat seseorang menjadi ‘lekat’ dan tergantung.

Apa hubungannya kharisma dengan kelekatan? Kharisma itu sendiri adalah sesuatu yang menonjol pada diri seseorang yang terpancar keluar sebagai daya tarik dan kewibawaan, sehingga mengundang rasa hormat dan kagum dari orang lain di sekitarnya. Nah, apa itu ‘kelekatan’? Stephen Covey pernah menyebutkan tentang ‘pusat-pusat hidup’. Ada orang yang memusatkan hidupnya pada materi, sehingga segala tindakan dalam hidupnya dipengaruhi dan cenderung disetir oleh benda-benda di sekitarnya. Orang lain lagi memusatkan hidupnya pada pribadi orang lain. Sehingga, segala tindakan dalam hidupnya sangat bergantung pada kehidupan orang lain, bahkan cenderung disetir oleh tingkah laku, perangai dan naik turunnya ’si pribadi’ yang dijadikan pusat (bahasa halusnya : panutan). Ekstremnya, orang melakukan praktik-praktik ‘kultus individu’. Itu karena mereka-mereka telah menjadikan sebuah pribadi (yang menurut mereka berkharisma) sebagai pusat kehidupan mereka. Hidup mereka tergantung pada pribadi (yang menurut mereka) berkharisma tersebut.

Contoh dari praktik kultus individu adalah mereka yang begitu mendewakan Bung Karno. Sehingga pemimpin lain yang bukan Bung Karno dianggap tak layak. Contoh lain yang lebih sederhana, adalah ketika seorang pria merasa hidupnya hancur sehancur-hancurnya ketika wanita yang pernah berjanji sehidup semati dengannya pergi meninggalkannya. Hidupnya tak lagi berarti tanpa kehadiran wanita itu. Itulah contoh paling sederhana dari seorang yang memusatkan kehidupannya pada orang lain.

Stephen Covey merekomendasikan satu pusat hidup yang ideal. Yaitu hidup yang dipusatkan pada ‘prinsip-prinsip kebaikan yang universal’. Prinsip-prinsip yang diyakini sebagai sebuah kebenaran universal. Ternyata dalam hal ini Stephen Covey punya pandangan yang sama dengan Ignatius Loyola, pendiri Serikat Jesus (SJ). Ignatius menekankan kehidupan yang ‘lepas bebas’, bahwa segala sesuatu di ‘luar diri kita’ adalah semata-mata sarana untuk memuliakan Tuhan. Bahwa kita sebagai manusia menggunakan sesadar-sadarnya seluruh kemampuan pada diri kita, tidak tergantung pada benda maupun pribadi seseorang dalam mewujudkan misi hidup kita di dunia. Kita tidak lebih memilih sehat daripada sakit, tidak lebih memilih kekayaan daripada kemiskinan.

Begitu banyak manusia di dunia ini begitu rapuh karena tidak menyadari bagaimana pusat hidup yang seharusnya dan sekaligus mendamaikan hati setiap orang. Konflik dan kekerasan, juga disebabkan oleh paradigma yang salah tentang pusat hidup. Pusat hidup yang berakar pada identitas, agama, ras tertentu, pangkat, status sosial dan lain-lain, biasanya tidak membuat hidup manusia tenteram. Manusia, oh manusia…

(Lewat tengah malam di Banda Aceh, 24 Juli 2006)

3 cangkir kopi sanger

Sunday, July 23rd, 2006

Ternyata, 3 cangkir kopi sanger dan companions telah berhasil membuat aku melek sampai pukul 4 dini hari.
Ternyata, 3 cangkir kopi sanger dan diskusi ngalor ngidul telah berhasil menggelitik ide-ide dan memuntahkannya dalam sebuah tulisan reflektif tentang lembaga, dalam satu malam dan satu hari penuh.
Ternyata, ‘transfer energi’ itu masih terbukti kekuatannya. Buktinya, sesuatu yang aku yakini betul sebagai semangat telah bangkit dalam diriku. Kuharap terjadi juga pada mereka.
Terima kasih sanger. Ia cuma sebuah sebentuk benda, yang dinikmati hanya sekedar sebagai sampingan di kedai kopi sederhana. Tapi ia jualah yang membawa obrolan kami menjadi bernas, yang tak pernah aku duga sebelumnya. Ngopi lagi yuuukss…

Being fulfilled..

Sunday, July 23rd, 2006

Apa yang menjadikan seorang manusia merasa fulfilled? Fulfill, suatu perasaan ‘berarti’ sebagai manusia, yang biasanya didahului oleh sebuah peran atau tindakan yang memberi arti bagi kemanusiaan seseorang secara unik. Seorang ibu akan merasa fulfilled, ketika perjuangannya dari melahirkan sampai membesarkan anak dapat terwujud dengan keberhasilan sang anak ketika dewasa. Seorang relawan akan merasa fulfilled ketika dirinya dapat menyelamatkan korban bencana dan mereduksi semakin banyak jatuhnya korban.

Banyak cara untuk mencapai hidup yang berarti rupanya. Sederhananya, perhatikanlah sekelilingmu, semestamu. Dari situ engkau bisa mulai menjadikan hidupmu berarti. Bukan menjadikan standar orang lain sebagai standar kebermaknaan hidupmu, tetapi bagaimana engkau dengan caramu yang unik dapat menjadikan hidup ini menjadi lebih berwarna. Bukan hanya hidup sendiri, tapi juga hidup orang lain.

Tidak semua orang dapat memaknai hidupnya, dan tak semua orang peduli apakah ia merasa fulfilled atau tidak. Disadari atau tidak, setiap orang akan selalu mencari format pemenuhan dirinya sebagai manusia. Diverbalkan atau tidak, being fulfilled akan selalu ada dan melekat dalam kehidupan setiap manusia. Namun, hidup akan terasa lebih indah, ketika manusia dapat terbangun, dan mendapati dirinya adalah manusia yang diciptakan untuk memberi makna tertentu bagi dunia ini.