Archive for November, 2005

Tercerabut…

Friday, November 25th, 2005

Malam itu, tiba-tiba aku merasa sendu dan ingin menikmati kesendirianku dalam tumpahan hujan Brussels yang dingin dan beku menjelang musim dingin 2005. Di dalam metro, kulihat seorang ibu (sepertinya imigran dari Eropa Timur) yang baru saja masuk dan duduk di kursi dengan tergesa-gesa. Di tangannya sebuah amplop putih yang dengan tergesa pula ia buka. Di dalamnya, beberapa lembar foto ia keluarkan. Mimik wajahnya ketika melihat foto-foto itu antara akan menangis dan sepertinya menahan emosi yang tak tertahankan. Digenggamnya foto-foto itu erat-erat. Karena aku berada di seberangnya, aku tak dapat mengetahui persis, apa yang dilihatnya di dalam foto itu. Keluarganya kah? Anaknya? Cucunya? Dalam imajinasiku, ia tengah melihat foto salah satu anggota keluarganya yang sudah lama tak ditemuinya. Sebegitu mirisnya ekspresi wajahnya menatap foto-foto itu… Kuingat ketika aku masih melayani pengungsi-pengungsi Timor Leste di Kupang dan Atambua, yang terpisah secara politis dan batas negara. Reaksi mereka bisa lebih hebat dari ibu yang kulihat di metro itu. Menangis, menyayat hati.. bahkan sampai sakit, hanya karena melihat foto sanak saudaranya yang lama tak ditemui. Kubayangkan diriku, yang kini tengah berada jauh dari keluargaku. Kangen, sebatas itu rasa yang mungkin muncul. Tapi bagi mereka, yang tak mengenal perbedaan jarak dalam kamus mereka, mungkin sudah menjadi akhir dunia. Buatku, masih ada rasa optimis untuk melihat keluargaku kembali. Bagi mereka, para pengungsi, pencari suaka, mereka yang terpaksa keluar dari kampung halaman, ini menjadi luka yang dalam untuk mereka. Harapan untuk bertemu kembali dengan saudara dan kampung halaman hanya tinggal harapan. Bahkan mungkin tak berani untuk berharap lagi. Yang hanya bisa dilakukan hanya mengenang. Menyimpan luka itu, mencoba menatap ke depan, walaupun luka itu terasa pedih untuk disimpan…