Archive for July, 2005

Alone…

Friday, July 22nd, 2005

Apa yang dilakukan orang-orang jika sendirian di rumah? Sendirian, yang bener-bener nggak ketemu batang hidung orang lain, selain batang hidung sendiri yang cuma bisa dilihat kalo sedang bercermin. Sendirian yang nggak cuma sehari, dua hari.. bisa sampe satu minggu lamanya. Tapi gila aja kalo lebih dari seminggu, aku belum mampu rasanya. Bisa gila!

Oke, kembali pada apa yang dilakukan ketika sedang sendiri. Kata para cerpenis dan novelis, sendiri, bisa jadi momen yang tepat untuk nyari inspirasi menulis cerita. Tapi aku bukan penulis cerita, gimana dong? Kata pertapa, sendiri merupakan momen yang tepat untuk mencari wangsit dan wahyu-wahyu dari dewa. Tapi udah seminggu lumutan sampe ijo juga, wangsit untuk menang lotere nggak muncul-muncul tuh.

Tapi kalo kata gue, dengan sendiri, aku bisa lebih fokus mikirin thesis. Tapi gimana kalo jenuh mikirin thesis melulu ya? Sebenarnya sih, sendiri di rumah, sorangan wae, aku bisa latihan jadi ibu rumah tangga yang baik atau latihan jadi cleaning service yang jempolan. Seperti misalnya mencuci baju atau bersih2 debu di lantai dengan penyedot debu. Aku juga bisa eksperimen memasak macam-macam masakan. Nggak lah, kalo masak mah. Wong yang makan cuma aku sendiri. Sejauh ini udah numpuk 3 kotak di kulkas berisi 3 jenis masakan berbeda, yang aku sendiri nggak bisa ngabisin. Serba salah rupanya kalo masak buat sendiri…

Well, yang paling penting, sendiri merupakan momen yang tepat untuk merenungkan tentang hidup dan masa depan. Di saat sendiri, orang bisa mengoreksi apa yang sudah dia perbuat di masa lalu, dan membuat janji untuk masa depan. Nggak ada salahnya juga untuk merakit mimpi untuk mengubah dunia. Sejauh itu kemudian diwujudkan secara nyata.

I’m only an ordinary person, with a big dream in my head and bunch of love in my heart.

Sendiri? Siapa takut??!!

(Groningen, 23 July 2005. Di permulaan hari yang gelap dan dingin)

Civilization dan Manja

Friday, July 22nd, 2005

Ada apa dengan aku saat ini?

Napasku sesak oleh karena asap pembakaran kendaraan bermotor yang tidak sempurna. Aku memaki setengah mati karena orang menyerobot seenaknya dalam antrian. Tiada hari tanpa roti dan butter, kopi dan susu. Kulitku gatal karena pakaian dicuci tanpa pelembut. Tidur tak nyenyak apabila ayam berkokok dengan kerasnya di pagi buta. Tak dapat pergi tidur di malam hari tanpa wangi sabun di badan.

Apakah ini efek dari perubahan kondisi hidup yang civilized atau aku saja yang manja?

Aku, dulu yang begitu sabar menunggu dalam antrian, meskipun diserobot orang berkali-kali ketika antri tiket kereta Parahyangan. Dulu yang satu hari penuh dapat berkeliling Bandung dengan motor bebek grand astrea, bersaing dengan kepul asap angkot-angkot cicaheum atau dago. Bahkan 4 hari dapat beradaptasi dengan gas methan di TPA Leuwi Gajah gituuu. Tak peduli apakah pakaianku dicuci dengan pelembut atau tidak, bahkan tak peduli apakah pakaianku kaku-kaku karena masih mengandung deterjen akibat tak sempurna dibilas… Masa kecilku pun kenyang dengan suara ayam tetangga dan azan yang berbunyi 5 kali sehari.

Ada apa denganku kini? Rasanya, aku menikmati hidupku baik dulu dan sekarang. Tapi, apakah aku bisa kembali kepada kondisi kehidupanku yang dulu? Apakah ini perubahan ke arah sesuatu yang lebih baik? Jika demikian, kondisi dulu bukan sesuatu yang lebih baik dari sekarang. Kenapa yang sekarang lebih baik dan yang dulu tidak lebih baik dari sekarang?

Apakah aku sudah termanjakan oleh dunia di mana aku tidak dilahirkan???

(Groningen, 22 Juli 2005. Di suatu malam yang sunyi, dingin dan sendiri)